Stop Sandiwara PSBB (Bag. 3)

Tidak (atau sangat?) terasa sudah lebih sebulan PSBB nasional (baca: Jakarta) dilonggarkan. Atas dorongan dari pemerintah pusat, berbagai daerah bergerak untuk membuka kembali kegiatan komersil. Perjalanan lintas daerah pun kembali dilonggarkan. Ada yang antusias, ada juga yang masih malu-malu, tapi akhir ceritanya sama: PSBB sudah (hampir) usai.

Waktu seri ini dimulai di bulan Mei, kebijakan menjadikan warga sendiri sebagai tahanan rumah masih dikumandangkan oleh pemerintah di berbagai penjuru dunia. Dengan dibekali model yang jauh panggang daripada api dan kaum pintar yang dengan senang hati (atau dengan takut?) bergerombol untuk merongrong banyak pejabat publik, hampir seluruh faset kehidupan yang memungkinkan masyarakat yang beradab direm, semuanya atas nama menghentikan virus yang konon katanya dapat memusnahkan satu generasi. Jelas, #dirumahaja adalah pengorbanan termulia yang dapat dilakukan tiap kita. Di saat yang sama, saya (dan mungkin banyak lainnya) yang terkungkung di rumah malah bertanya-tanya, kenapa kita perlu melakukan semua ini. Tapi kini semua sudah selesai, minimal untuk sekarang.

Pada bagian pertama, saya mengajukan tiga pertanyaan: 1) apa janji PSBB sudah terpenuhi? 2) apa ongkos yang harus dibayar? 3) sampai kapan kita harus begini? Dua yang pertama sudah saya coba jawab (tapi mungkin sekarang perlu diperbaharui lagi). Karena kesibukan (baca: kemalasan) saya, yang ketiga kini sudah (hampir) terjawab sendiri. Tinggal satu hal yang belum juga terwujud: pembukaan kembali sekolah-sekolah, terutama di tingkat dasar. Sangat disayangkan, masih begitu banyak sekolah masih dijalankan untuk kepentingan pengurusnya, bukan kepentingan pendidikan muridnya. Pembukaan sekolah masih terhambat momok superspreader, walau belum ditemukan bukti bahwa virus ini menyebar luas di anak usia sekolah (tapi ini dapat dibahas lagi di lain waktu). Alhasil, ketimpangan pendidikan, efek terpanjang dari PSBB, akan semakin lebar. Memastikan bahwa sekolah dapat berjalan kurang lebih secara normal adalah perjuangan terbesar dalam waktu dekat ini, tapi pada dasarnya diskusi di sisi publik hampir selesai (dan diskusi akademik yang serius bisa dimulai).

Saya ingin menutup seri ini dengan menjawab pertanyaan berikut: kenapa saya sebut PSBB ini sandiwara? Jawabannya bukan karena penegakannya yang penuh lubang, walaupun bukti dari ini tidak sulit untuk dicari. Bukan juga karena banyak aturannya yang rancu, walaupun memang sering kita bertemu yang aneh. Dua jawaban ini beranggapan kalau PSBB ini memang benar bermanfaat seperti yang dijanjikan. Alih-alih menghabisi pandemi, kebijakan tanpa pandang bulu ini malah menghancurkan begitu banyak hal yang memberi arti pada hidup bermasyarakat. Bukannya melindungi mereka yang rentan, meneriakkan kebijakan yang pura-pura saintifik (tentunya lengkap dengan grafik) malah membebani tabungan kita semua, baik yang tunai ataupun yang dalam bentuk modal sosial kita. Kepongahan kaum yang merasa pintar menertawakan mereka yang, dengan alasan yang diyakini secara mendalam, tidak mengikuti dekrit para “ilmuwan” malah menambah luka di bagi mereka yang merasa tidak duduk bersama kaum terpilih itu. Memeluk erat kebijakan yang konon katanya berbasis sains, dibenarkan dengan alasan pengorbanan, tapi tidak memberi suara penuh bagi mereka yang pengorbanannya lebih berat dari sekadar memesan Gofood, adalah sandiwara terbesar di tahun ini.

Jika ada dari kita yang merasa mengenali peran yang saya sebut di atas, hanya ada satu harapan saya. Dalam waktu dekat, setelah begitu besar ongkos yang kita keluarkan untuk sandiwara beberapa bulan terakhir, akan banyak orang, terutama yang kemarin paling vokal, akan jatuh pada sunk cost fallacy dan merasa harus terus membela brand mereka, bahkan jauh setelah kita dapat menilai segala kerusakan secara lebih dekat. Mudah-mudahan, jika ada kedua kalinya, kita dapat dengan yakin memilih meninggalkan panggung sandiwara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *