Stop Sandiwara PSBB (Bag. 2)

Pada bagian pertama, kita sudah memeriksa beberapa bukti manfaat PSBB dan ternyata kesimpulannya tidak terang benderang seperti yang ditampilkan ahli kita di TV. Tapi baiklah kita berlaku adil: semua bukti itu masih di tahap awal dan orang yang sehat akal masih dapat berdebat tentang manfaat PSBB. Sulit disangkal namun kalau PSBB itu mahal: uang, tapi juga dari sisi ketahanan sosial dan pendidikan. Sekarang kita akan menelaah apa yang hilang di masa PSBB, sehingga kita dapat dengan lebih jujur menjawab pertanyaan kedua: berapa harga yang mau anda bayar?

Kita akan mulai artian harga yang paling harafiah: dampaknya pada keuangan kita. Dampak pandemi di tingkat makro sudah banyak dilaporkan: pertumbuhan ekonomi yang di bawah target menyebabkan defisit anggaran yang melebar, penerimaan pajak yang menurun, dan pengeluaran bantuan sosial (dan jangan lupa bantuan kapital untuk kawan) yang tidak murah. Semuanya tidak heran, tapi ini belum menjawab pertanyaan dasar kita: jika PSBB tidak ada, apakah hasilnya akan berbeda?

Berbeda dengan kata pujangga, berandai-andai adalah hal yang paling sulit. Apalagi untuk sistem yang serumit suatu negara. Bagaimana kita memodelkan apa yang sebenarnya keputusan juta orang pada tiap saat, dimana tiap putusan kecil itu akan berpengaruh pada angka-angka yang kita lihat di tingkat nasional. Apalagi di masa sekarang, karena pertimbangan tiap orang akan berubah. Alih-alih berpura-pura mengeluarkan angka yang saya tidak bisa bela, lebih baik kita melihat satu kasus secara seksama untuk mengerti apa yang mungkin terjadi tanpa PSBB. Di sini saya akan membawa satu kasus: Swedia.

Pendekatan negara ini banyak diperhatikan, karena mereka memilih untuk tidak menerapkan PSBB. Sekolah, restoran, toko, dan tempat kerja lainnya tetap buka. Menurut ahli kesehatan masyarakat yang paling bertanggung jawab atas keputusan ini, usaha menghentikan penyebaran virus yang bergerak cepat dan dengan terselubung itu sia-sia, sehingga fokus penanganan harusnya ada pada kaum yang rawan, bukan memutus penyebaran. Keabsahan pendapat ini masih diperdebatkan hebat. Saya tidak mau fokus tentang ini, tapi mari kita lihat apa efek keputusan non-PSBB di kehidupan negara ini.

Last night in Sweden“: Apa yang terjadi dengan eksperimen Swedia?

Dalam tingkat terbesar, ternyata Swedia tidak berbeda dengan negara tetangganya yang menerapkan lockdown: menurut perkiraan Komisi Eropa, ekonomi Swedia tahun ini akan menyusut sekitar 6%, sejalan dengan negara seperti Norwegia dan Denmark. Kalau begitu apa bedanya? Bedanya adalah penyebabnya: yang anda baru saja lihat adalah efek globalisasi. Sekitar 30% dari ekonomi Swedia bergantung pada ekspor dan 22 persen dari industri. Jika pasar ekspor ini hilang, kemana barang produksi ini akan dikirim. Demikian juga industri dalam negeri: jika rantai pasok yang kompleks ini putus, bagaimana bisa berproduksi? Bahkan jika pabrik tidak ditutup, tidak ada cara dan alasan untuk berproduksi.

Demikian juga dengan bidang jasa. Jumlah penerbangan harian turun 90% di bandara-bandara utama. Hotel-hotel pun sepi pengunjung, karena mereka sedang dikarantina di negara masing-masing. Secara umum, bisnis pariwisata harus menerima akan terjerembap tahun ini. Tidak hanya dengan pengunjung dari luar, masyarakat setempat juga masih ragu untuk keluar dan mengeluarkan uang dan banyak memilih untuk tetap di rumah dan menghindari tempat umum. Alasannya baik karena virus atau karena tidak yakin bahwa esok masih memiliki penghasilan. Singkat cerita, ada dua poin penting di sini. Pertama, terikat eratnya kehidupan masyarakat modern menyebabkan kesulitan di satu negara juga menjadi masalah untuk negara lain. Kedua, pun diberikan kesempatan, masyarakat yang tidak percaya dapat selalu memilih untuk tinggal di rumah.

Kalau begitu, apakah PSBB tidak berpengaruh? Tidak juga. Mari kita bandingkan lagi dengan negara Eropa lainnya. Menurut perhitungan Komisi Eropa, penurunan konsumsi publik di Swedia masih lebih kecil dibanding dengan tetangganya (Hal. 171 Tabel 5). Betul omset restoran turun 70%, tapi ini masih lebih baik dibanding hampir 100% di negara seperti Jerman, Inggris, dan AS. Yang paling penting, dengan menghindari hancurnya tempat usaha dan dikombinasikan dengan jaminan pekerja yang kuat, Swedia mampu menghindari PHK massal yang kini menghantui banyak daerah. Dengan infrastruktur ekonomi yang kurang lebih masih utuh, negara ini memiliki modal lebih untuk membal kembali di masa pasca-pandemi.

Siapa yang sebenarnya menanggung beban PSBB?

Kita sudah melihat apa yang mungkin terjadi tanpa PSBB. Sayangnya itu bukan yang terjadi di Indonesia. Alih-alih membantali goncangan ekonomi dengan jaring pengaman untuk pekerja, kebijakan yang tidak konsisten ditambah dengan penutupan tempat kerja di pusat-pusat ekonomi nasional membawa beban yang berat kepada banyak orang. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya menanggung beban itu?

Kalau anda menjawab kita semua, itu tidak salah. Tapi itu juga tidak sepenuhnya benar, karena beban itu tidak ditanggung rata. Sebagai contoh, dari data mingguan yang dikeluarkan Departemen Ketenagakerjaan AS, per akhir April yang lalu sudah 30 juta orang menganggur, membawa tingkat pengangguran hanya sedikit di bawah 15%. Jika dimasukkan yang masuk kategori pengagguran tertutup, angka ini lebih dekat ke 20%. Lebih parah lagi, laporan yang sama mengatakan kalau 20 dari 30 juta penganggur itu kena PHK di bulan yang sama.

Saya kenal pribadi dengan beberapa dari 30 juta orang ini. Kehilangan pekerjaan itu menyakitkan, bahkan jika sehari-hari mengeluh harus masuk kerja. Tapi yang paling menyedihkan adalah, bagi banyak mereka kemungkinan untuk mendapatkan kerja kembali itu kecil. Jika laporan di atas ditelaah lagi, korban PHK terbesar adalah mereka yang lulusan paling tinggi SMA. Mereka, yang bila di negara kita dapat dibandingkan dengan buruh dan pekerja informal lainnya, biasanya menempati sektor jasa yang butuh banyak orang, seperti di restoran, tempat hiburan, dan jasa sederhana lainnya. Jauh dari tunjangan, pekerjaan mereka umumnya tidak memiliki banyak manfaat yang biasa dinikmati pekerja kelas menengah. Parahnya lagi, pekerja yang sering disebut low-skill ini adalah yang paling sulit mencari pekerjaan. Dengan kata lain, yang paling terakhir dapat kerja juga adalah yang paling pertama ditendang keluar.

Pengangguran yang tidak merata. Klik gambar untuk sumber.

Data di atas cenderung menangkap pekerja sektor formal. Bagaimana dengan, misalkan, pengendara ojek online (ojol) di sekitar kita? Belum lama ini kita menyaksikan drama sinterklas musiman dari elite ibukota. Tiba-tiba nasib pengendara ojol ini sangat memprihatinkan, sehingga seorang ketua MPR pun merasa terpanggil untuk menggunakan mimbarnya untuk mengumpulkan bantuan bagi mereka. Tentunya ini hal yang baik, karena pendapatan mereka benar menurun jauh. Tapi setelah drama bubar, prospek mereka pun tidak berubah: perusahaan induknya mencatat turunnya jumlah angkutan hingga 75% di bulan April. Perusahan induk yang tidak pernah membukukan laba ini, alih-alih meraih untung, malah melebarkan jurang kerugian. Jangan heran jika efeknya pun akan dirasakan pengemudi di bawah.

Lebih dari sekadar uang

Saya ingin mengakhiri diskusi tentang ongkos ini bukan dengan uang yang terdengar abstrak, sehingga mendiskusikannya hanya menjadi dangkal. Saya ingin bicara tentang dampak PSBB bagi anak-anak. Jarang kita dengar dibicarakan, tapi efeknya akan ada jauh setelah huru-hara ini usai.

Sejak banyak sekolah dipaksa tutup dua bulan yang lalu, siswa digerakkan untuk “belajar di rumah”. Ada sekolah yang rajin mengirim PR, ada yang mengadakan kelas online, tapi banyak juga yang sudah tidak jelas kabarnya. Yang penting harus dirumahkan, karena katanya takut jadi klaster pandemi, walaupun penularan di yang muda itu sangat minimal. Di tengah itu orang tua justru bingung, karena kini mereka harus menemani anak 24 jam sehari. Sudah tidak bisa keluar rumah, kini mereka harus berhadapan dengan setan-setan kecil ini.

Kita lupakan dulu keluhan para orang tua. Toh mereka juga yang membawa, jadi mereka harus tanggung jawab. Yang perlu dikhawatirkan adalah dampak hilangnya kegiatan belajar pada pendidikan anak. Hal yang pertama harus diakui adalah, pembelajaran jarak jauh seperti sekarang ini tidak efektif sama sekali. Dari sisi akses pun sudah sulit, karena tidak semua orang memiliki perangkat untuk ikut kelas online. Bahkan yang memiliki pun, dengan cara apapun, hanya punya akses internet yang terbatas. Kuota tidak gratis, apalagi jika bukan untuk hiburan di kanal milik operator. Pada keluarga yang cukup beruntung untuk mendapat akses juga, motivasi siswa rendah karena kualitas kontak maya dibanding dengan komunikasi di ruang kelas. Jika setengah dari siswa menghilang dari kegiatan di kelas, apa bisa kita bilang anak itu masih belajar?

Menghilangnya siswa dari kegiatan belajar itu sudah banyak diteliti di AS sampai ada julukannya sendiri: “summer slide”. Selewat dua bulan libur musim panas, siswa yang tidak bersentuhan dengan kegiatan akademis akan kehilangan hasil belajarnya di awal tahun ajaran baru, terutama di bidang matematika dan bahasa. Kehilangan ini awalnya kecil bagi anak SD, namun akan melebar di tingkat atas. Apakah anak kecil itu aman? Tidak juga, karena kehilangan hubungan pertemanan di luar keluarga juga berefek negatif terhadap perkembangan anak. Sekali lagi, bebannya tidak merata: kehilangan ini umumnya terpusat di keluarga yang tidak mampu, karena keluarganya tidak dapat menyediakan akses pendidikan di luar sekolah.

Siapa yang menjaga anak-anak?

Banyak kita tidak sadar, sekolah kita telah menyediakan (tanpa dirancang) begitu banyak manfaat bagi masyarakat: pendidikan, tapi juga tempat mengasuh anak, melindungi anak dari kekerasan ,dan wadah bagi perkembangan anak itu sendiri. Bayangkan efek yang menumpuk dengan praktis memberi libur Corona empat bulan. Dengan menutup sekolah karena bahaya yang nihil, kita tidak hanya membebani anak dan orang tuanya. Karena dampak buruknya banyak ditanggung keluarga tidak mapan, mengunci sekolah berkepanjangan begini malah membesarkan ketimpangan sosial di masa depan.

Dari semua diskusi ini, mungkin yang terakhir ini yang benar memberatkan hati saya. Tidak punya anak memang (dan mungkin tidak akan pernah), tapi harusnya ini lebih banyak dipikirkan di tengah diskusi pandemi yang mengutamakan drama medis dan sensasi ketakutan. Lebih dari uang, yang selalu bisa dicari, pendidikan harus ditabung. Semakin tertinggal tabungannya, semakin sulit mengejarnya. Apakah kita sudah menggadaikan masa depan jutaan anak?

Saya di sini hanya ingin mengemukakan harga PSBB bagi masyarakat kita. Apakah itu harga yang pantas, itu hanya masing-masing yang bisa menjawab. Tapi jika negara ini memang sudah dewasa, sudah waktunya kita berdiskusi yang bernas untuk menjawab pertanyaan ini: kapan kita bisa berkata PSBB itu terlalu mahal?

Lanjut ke bagian 3.

1 thought on “Stop Sandiwara PSBB (Bag. 2)”

  1. Pingback: Stop Sandiwara PSBB (Bag. 1) - Coretan Bang Paul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *