Stop Sandiwara PSBB (Bag. 1)

Belum lama ini beredar beberapa gambar di lingkaran saya yang katanya berasal dari sebuah kementrian. Menurut gambar ini, pemerintah sudah menyiapkan skenario untuk kembali “normal” setelah lebaran. Diawali dari dengan pabrik di tanggal 1 Juni, konon kegiatan akan bertahap kembali selang seminggu. Diharapkan pada Juli semua kegiatan dapat berlangsung normal.

Sewajarnya cuma ada satu jawaban yang pantas untuk gambar ini: omong kosong. Sejak kapan kita bisa mengatur jadwal virus? Jelas gambar ini cuma coret-coretan seorang staf yang mungkin terlalu semangat (atau mungkin juga mau terkenal). Seharusnya tidak pantas untuk dibicarakan. Tapi kenyataannya, ia tetap saja ramai. Bukan hanya dari kerumunan pencemooh yang biasa (yang sebenarnya tahu sendiri kalau ini pantas diabaikan), tapi juga masyarakat awam. Siapa menyangka, kisah tidak jelas ini ternyata menyentuh satu ide yang banyak dirasakan tapi hanya dapat dikatakan dengan suara berbisik karena takut ada yang mendengar: kami sudah lelah di rumah.

Tentu saja kaum pintar negara ini dengan cepat bergerak untuk menepis hasrat ingin keluar. Berbagai doktor dan dokter dengan cepat maju untuk mengingatkan kenapa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) harus tetap dijaga. Berdasarkan model, katanya, satu-satunya cara untuk mengalahkan wabah ini adalah dengan memperketat mengunci diri. Lihat, bukankah para pejuang garis depan sudah berkorban tanpa pamrih siang dan malam untuk melawan virus? Apakah sulitnya jika kita hanya harus tinggal di rumah untuk menjaga kesehatan bersama? Apakah anda anti-sains? Apa anda percaya “konspirasi elite global”? Kalau begitu silahkan datang ke acara TV nasional sehingga bisa kami olok-olok.

Setelah puas menertawakan kebodohan penganut teori konspirasi yang sejujurnya memang bodoh, hidup (dan PSBB) masih terus berlanjut. Kaum pintar ini niscaya akan kembali kepada tiga pertanyaan berikut. Pertama, apakah manfaat PSBB (atau lockdown atau shelter-in-place atau bahasa apapun yang anda pilih) itu seperti yang dijanjikan? Kedua, seberapa besar ongkos yang rela anda bayar untuk PSBB? Ketiga, sampai kapan PSBB harus dijalankan?

Apakah janji PSBB sudah terpenuhi?

Mari kita mulai dari pertanyaan yang pertama. Mungkin terasa aneh menanyakan ini. Bukankah ini kebijakan saran para ahli? Secara umum juga masuk akal: penyakit menular tidak dapat berpindah jika tidak ada yang bisa ditulari. Dengan menghindari satu sama lain, kita akan menghentikan penyakit ini kan?

Sayangnya tidak semudah itu. Kebijakan PSBB ketat sampai menutup semua tempat usaha seperti sekarang ini belum pernah dijalankan. Dalam pandemi 1918 yang sering dikutip itu pun, pusat wabah di kota St. Louis, AS (yang sering dijadikan contoh wilayah yang tanggap) tidak pernah menutup semua tempat usaha, tapi hanya tempat umum seperti gereja, restoran, dan bioskop. Belum pernah dalam sejarah masyarakat modern (selain dalam perang) begitu banyak orang dipaksa untuk ada di rumah.

Baiklah, pembaca dapat berkata. Belum pernah dicoba bukan berarti tidak benar. Sebaliknya, karena kita tahu kehidupan normal pra-pandemi itu bermasalah, bukankah kebijakan ini pantas dicoba? Sekilas pernyataan ini terlihat benar, tapi ia mengandung suatu sesat pikir yang mendasar: kita hanya dapat membuktikan pernyataan yang positif. Bayangkan di dalam pengadilan: untuk menghukum seseorang, adalah tanggung jawab jaksa (sebagai yang menuntut) untuk menunjukkan adanya tindak pidana, tapi bukan tugas yang tertuduh untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Demikian juga dalam hal ini: yang terbeban untuk menunjukkan keampuhan PSBB untuk melawan pandemi adalah tugas pendukungnya. Tapi karena pendukung ini puas dengan membawa kata pakar-pakar yang nyaman dengan keilmuannya, maka saya berusaha melakukan sesuatu yang telah gagal dikerjakan oleh seorang mantan pesulap: mempertanyakan keampuhan PSBB melawan pandemi.

Dihadapi oleh pertanyaan yang (seharusnya) mendasar ini, jawaban yang tadinya mantap mulai mengandung nada bertanya. Dimulai dari yang paling mudah: negara yang tidak melaksanakan PSBB, seperti Taiwan dan Korea Selatan, berada di antara negara yang paling rendah tingkat kematiannya. Tunggu dulu, kata pembaca. Ini perbandingan yang tidak adil, karena negara-negara itu punya kemampuan organisasi yang jauh di atas Indonesia. Saya setuju. Karena itu, saya argumen ini saya tajamkan: data awal menunjukkan, tingkat kematian (relatif terhadap angka di wilayah yang sama di tahun sebelumnya) di wilayah yang melakukan PSBB tidak berbeda secara signifikan dengan wilayah yang longgar, bahkan setelah sebulan kebijakan diberlakukan.

Pembaca mungkin bisa membantah, kalau data yang ada tidak sempurna. Biar bagaimana, analisis ini sangat sederhana dan angka kematian pun masih akan banyak direvisi. Ini masuk akal, walaupun saya curiga revisinya seharusnya bergerak turun. Karena itu, saya ajukan argumen yang kedua: jumlah yang sudah terpapar virus sudah terlalu banyak, sehingga arti dari pembatasan perlu diragukan.

Apa sebenarnya tujuan PSBB dan lockdown?

Untuk memahami argumen ini, mari kita kembali motivasi awal PSBB: menghindari jumlah pasien yang membludak (#flattenthecurve) dan memutus persebaran virus dengan menekan laju penularan (dikenal dengan R atau R0). Motivasi pertama didorong oleh pemodelan matematika: menurut ramalan “dukun modern“, bahkan dengan lockdown ketat pun, jumlah pasien, terutama yang membutuhkan perawatan kelas ICU akan jauh melebihi kapasitas rumah sakit. Ternyata belakangan diketahui kalau ini hanya fiksi: rumah sakit darurat dengan kapasitas ribuan tempat tidur akhirnya praktis tidak terpakai. Jumlah pasien yang dirawat rumah sakit (ICU atau bukan) tidak pernah mendekati angka yang diumumkan. Karena itu perlu diragukan kalau PSBB benar dibutuhkan untuk flatten the curve.

Bagaimana dengan yang kedua? Di sini kita akan berkenalan dengan Prof. Hendrik Streeck, seorang ahli virologi dari Universitas Bonn di Jerman. Sebelum dikenal umum, ia adalah peneliti virus HIV. Tapi sudah hampir dua bulan terakhir namanya menjadi terkenal di Jerman, karena Prof. Streeck memimpin sebuah studi yang yang paling ditunggu-tunggu musim ini: dia mau mengukur banyaknya orang yang pernah terpapar oleh virus Corona.

Bagaimana caranya? Dengan tes antibodi. Berbeda dengan tes PCR yang melihat infeksi yang masih berjalan, tes antibodi bekerja seperti melihat bekas luka: pada tubuh orang yang pernah terpapar sebuah virus, lepas dari gejala atau tingkat keparahannya, akan terbentuk sel yang melawan virus itu sebagai bentuk pertahanan alami tubuh. Sel yang terbentuk ini yang kemudian membuat kita terhindar dari virus yang sama, setidaknya dalam waktu dekat. Pada tes antibodi, alat uji akan mencari keberadaan sel pertahanan tersebut, yang menunjukkan bahwa orang yang dites pernah terpapar oleh virus.

Studi Prof. Streeck ini dilakukan di Gangelt, sebuah kota kecil (sekitar 12.000 orang) di Jerman (Studi ini dikenal juga dengan nama Heinsberg, dari “kabupaten” dimana Gangelt berada). Di antara banyak kota kecil, Gangelt dipilih karena pada tanggal 15 Februari ia mengalami kejadian super-spreading, dimana banyak orang terpapar pada waktu yang bersamaan, pada sebuah festival kota. Dua minggu kemudian, pada tanggal 28, kebijakan lockdown ketat diterapkan di kota ini. Kebijakan ini belum berubah sampai awal April, ketika sekitar 900 sampel darah dan swab diambil sekumpulan yang mewakili komposisi penduduk kota.

Laporan studinya keluar minggu lalu dan ada empat hasil yang cukup menarik. Pertama, setelah lockdown ketat selama sebulan, diperkirakan sekitar 15% penduduk kota sudah pernah atau sedang terpapar virus, dilihat dari tes antibodi dan tes PCR. Kedua, di antara yang menunjukkan hasil tes positif, sebagian besar hanya menunjukkan gejala flu biasa. Ketiga, studi ini juga mengukur Infection Fatality Rate (IFR), yaitu tingkat kematian semua yang pernah terpapar virus sebesar 0,35%, jauh di bawah angka menyeramkan 8% yang kita sering lihat. Terakhir, studi ini juga menunjukkan risiko penularan di rumah itu jauh lebih tinggi dibanding di tempat biasa: alih-alih menahan penyebaran, memaksa keluarga di rumah lebih lama meningkatkan risiko penularan antar anggota keluarga. Untuk pembahasan lebih lanjut dengan segala kritiknya, silahkan lihat di sini.

Virus ini sudah menyebar jauh dari yang dapat kita tes

Studi dari Gangelt ini mungkin adalah studi yang paling ambisius dan mendalam sejauh ini untuk mengenali besarnya persebaran virus Corona dan tingkat kematiannya. Situasi Gangelt memang unik (adanya super-spreading event, misalnya), sehingga hasilnya belum tentu dapat diterapkan di daerah lain. Namun jika dibandingkan dengan beberapa studi lain, seperti di New York, wilayah San Francisco, Iran, dan di dua kapal induk, dapat dilihat dua fenomena penting: jumlah yang sudah pernah terpapar itu signifikan (lebih dari 3%) dan dengan selisih jauh, mayoritas yang terpapar hanya menunjukkan gejala ringan atau malah tidak bergejala sama sekali.

Percayalah kalau angka 3% itu banyak. Sebagai contoh, ini lebih banyak dari jumlah pengemudi ojek online yang aktif di berbagai kota besar. Jika kita (sebelum pandemi) sulit melewati satu hari di sebuah kota tanpa bertemu ojek, bagaimana kita mengharapkan kalau kita bisa menghindari kontak dengan Orang yang (seharusnya) Dalam Pengawasan, apalagi jika mereka tidak bisa dikenali tanpa tes? Saya ragu ini sesuatu yang dapat dicapai. Tapi kalau begitu, kita jadi harus mempertanyakan motivasi kedua PSBB: bukankah sekarang sudah terlambat untuk memutus rantai penyebaran virus? Kalau begitu buat apa lagi PSBB?

Lanjut ke bagian 2.

P.S. (13/5/2020): Hasil uji antibodi pada donor darah di Belanda juga menunjukkan angka 3% (Slide 23) di awal April, tidak terpengaruh usia. Lepas dari selection bias (karena yang pergi mendonor adalah orang yang dirasa sehat), ini menunjukkan kalau persebaran virus sudah meluas. Perlu dicatat, pembatasan di negara ini datang jauh lebih lambat, sebelum studi antibodi ini dikeluarkan.

1 thought on “Stop Sandiwara PSBB (Bag. 1)”

  1. Pingback: Stop Sandiwara PSBB (Bag. 3) - Coretan Bang Paul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *