Model Bukan Ramalan Dukun

Ketika menghadapi masa depan yang tidak pasti, manusia akan berusaha mencari pertanda. Contohnya, ketika memilih tiga angka secara acak dapat menjanjikan kekayaan sementara, banyak orang berpaling pada kekuatan (yang konon) gaib. Itu kalau lewat perantara. Kalau mau yang gratis, bisa juga dengan berusaha mencari petunjuk alam yang muncul tidak diduga. Biasanya kalau tidak lewat perilaku binatang bisa juga dengan mencatat mimpinya semalam. Ini sudah biasa.

Banyak juga yang merasa ini tidak cukup. Tidak ilmiah, katanya. Ilmu modern, menurut sebagian orang, telah mendukung teknik ramalan yang lebih jitu dan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Karena kita sudah mengerti secara abstrak cara kerja dunia ini, kita dapat memperkirakan apa yang akan terjadi. Yang dibutuhkan cuma komputer yang cukup kuat dan kemampuan analisis matematika. Hanya dibekali sedikit pengetahuan, ilmu matematika sekarang diyakini bisa mengintip masa depan. Sebagai orang yang pernah melakukan dua-duanya (matematika dan modelling), saya sih ragu. Sayangnya ini tidak menghentikan orang lain untuk menaruh semua harapannya pada ilmu ini. Dengan kata lain, prediksi komputer adalah dukun masa kini. Parahnya dalam masa krisis seperti sekarang, banyak manusia yang katanya modern berpaling pada primbon modern ini. Pada tulisan ini, saya akan menceritakan kisah tentang dua prediksi yang digembar-gemborkan sebagai kebenaran, dan bagaimana keduanya tidak memenuhi harapan.

Contoh pertama datang dari dalam negeri. Tanggal 18 Maret, satu tim dari satu kampus ternama di negeri ini mengumumkan hasil terawangan mereka terhadap pandemi virus Corona di Indonesia. Trio penulis ini terdiri dari setidaknya dua doktor, satu bahkan dari sebuah universitas ternama di Belanda sana. Menurut trio ini, pandemi ini akan mereda di pertengahan April dan total jumlah terinfeksi ada sekitar 8000 orang. Setelah dikutip di beberapa media, para penulis ini menggeser prediksi mereka ke akhir Mei. Kalau memang benar bukannya ini kabar baik?

Sayangnya tidak semudah itu. Saya harus jujur: kalau saya adalah penulis laporan ini, saya tidak akan merusak nama besar institusi saya dengan prediksi murahannya. Maaf saja, tapi prediksi ini hanya kelas amatir. Seharusnya penulis sadar diri sebelum mau mempromosikan hasit tulisannya. Prediksinya hanya dibuat dengan metode curve fitting, yakni menyocokkan satu rumus dengan data (yang banyak cacatnya; lihat tulisan sebelumnya) dari berbagai negara. Sah saja untuk curve fitting (toh ini pendekatan standar), tapi kalau dilakukan tanpa dasar teori yang jelas seperti mereka ini, tidak ada bedanya dengan menebak mimpi. Kalau ini dilakukan mahasiswa S1 yang baru belajar komputer sih masih termaafkan, tapi kalau mengaku ahli dan mau diwawancara media itu sudah terlalu (Kalau kita mau adil, penulis utama mengakui kalau modelnya itu sederhana. Masalahnya hanya itu terlalu sederhana, jadi kalau bukan karena mereka dosen ITB pasti sudah ditertawakan sampai malu sendiri). Pembaca bisa menilai sendiri kalau seberapa dekat prediksi ini dengan kenyataan.

Untungnya tidak banyak yang percaya sama mereka. Mungkin karena masyarakat Indonesia sejatinya sangat tradisional: biar sehari-hari mengaku modern, di lubuk hatinya tetap lebih percaya pada kearifan lokal dan bukan pada ilmu asing yang belum tentu sesuai dengan ‘budaya ketimuran’. Di negara asal ilmu asing ini, sayangnya, perlakuan yang sama tidak berlaku. Alih-alih percaya pada orang ‘pintar’, mereka percaya pada orang pintar. Hasilnya? Kadang orang pintar ini tidak se’pintar’ yang dikira. Hasilnya, orang yang percaya sama mereka malah terjerumus di jalan yang salah.

Ceritanya dimulai pada tahun 2001. Peternakan-peternakan di Inggris dilanda oleh wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak seperti sapi dan domba. Walau penyakit ini biasanya tidak mematikan, penularannya yang cepat membuat virus ini sangat ditakuti peternak. Secara umum penyakit ini dapat dikendalikan, tapi pada tahun 2001 pihak berwenang di Inggris telah kecolongan. Kecepatan virus ini menyebar dan ‘gagalnya’ (minimal dalam persepsi) metode penanganan yang sudah diketahui meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk mencari cara baru. Pada saat inilah mereka berpaling kepada matematika.

Menurut sebuah tim pemodelan dari Imperial College di Inggris, cara terbaik untuk penanganan epidemi adalah dengan membunuh semua hewan ternak dalam radius 3 km dari titik kejadian. Ini adalah pendekatan yang belum pernah dilakukan, karena umumnya cukup hanya melakukan vaksinasi atau, jika akan membunuh, hanya membunuh hewan yang dicurigai telah kontak langsung dengan kasus. Kok bisa tim ini menemukan terobosan baru ini? Logikanya sederhana: lepas dari lokasi peternakan, virus diasumsikan dapat bergerak secara merata dan sangat cepat lewat udara dan kotoran, sehingga semua hewan di sekitar dapat juga diasumsikan sudah terkena. Patut dicatat kalau tim dari Imperial ini terdiri dari ahli matematika, bukan dokter hewan ternak. Mereka juga tidak memiliki latar belakang peternakan, tapi epidemiologi manusia.

Apa hasilnya? Lebih dari tiga juta hewan dibunuh tanpa diambil dagingnya, menyebabkan kerugian yang ditaksir mencapai milyaran dollar. Alih-alih memperlambat, pemusnahan hewan malah menambah cepat penyebaran. Apakah ini semua seimbang dengan keuntungannya? Ternyata sama sekali tidak. Sebuah review dari pemerintah beberapa tahun kemudian menemukan bahwa cara yang diajukan sama sekali tidak efektif. Kenapa? Karena asumsi yang digunakan sama sekali tidak dapat didukung oleh sains yang sudah diterima. Akhirnya, malah persoalan akhirnya dapat diselesaikan dengan cara yang sudah teruji. Lebih hebatnya lagi, hasil dari tim pemodel, yang sudah digunakan penulisnya untuk masuk ke lingkaran penasihat pemerintah, di kemudian hari menunjukkan kalau proposal mereka tidak akan berhasil.

Mohon jangan deskripsi saya ini jangan disalahartikan. Saya yakin peneliti dari Imperial itu cakap. Di sisi lain, mereka melakukan pekerjaan yang rumit dalam waktu yang sangat singkat dan data yang dapat diperdebatkan. Ketepatannya sangat tergantung dengan asumsi dan data awalnya (yang juga sangat sedikit). Ditambah lagi, setiap model selalu disertai dengan peringatan: angka ini hanyalah prediksi terbaik dari beberapa skenario yang mirip. Setiap skenario yang mirip ini dapat terjadi, sehingga hasil akhirnya tidak persis begitu. Ini semua bisa dipahami.

Tapi perlu diwaspadai juga, jika keinginan kita akan kepastian dalam krisis mendorong kita untuk mencari dukun-dukun modern. Di contoh pertama, kita dijanjikan sebuah angka yang diberi ‘kosmetik ilmiah’, walau ternyata cuma hitungan kosong. Di contoh kedua efeknya lebih drastis: keinginan akan sebuah angka yang dapat menyibak tirai masa depan membuat sebagian orang dibuai oleh janji ilmu matematika yang ‘pasti’. Ini berbahaya, terutama ketika kebijakan yang direkomendasikan oleh model itu diluar kebiasaan dan menyangkut kehidupan orang banyak.

Ngomong-ngomong, kenapa contoh kedua ini saya bahas sekarang? Karena penulis utamanya, Dr Neil Ferguson, adalah penasehat utama pemerintah yang menyarankan total lockdown nasional.

1 thought on “Model Bukan Ramalan Dukun”

  1. Pingback: Stop Sandiwara PSBB (Bag. 1) - Coretan Bang Paul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *