Membal Atau Gepeng

Baru kemarin teman saya mengeluh, “Kapan Corona ini selesai? Biar kita bisa hidup normal lagi.”. Saya yakin ini keluhan semua orang, dengan berbagai macam alasan. Ada yang sudah tidak kuat lagi dengan kelakuan anaknya. Ada yang karirya tertunda. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang usahanya tidak jelas nasibnya. Yang paling banyak jelas yang cuma sudah jenuh makan Indomie. Semua orang ini bertanya: kapan semua ini usai?

Sedetik setelah pertanyaan itu terucap, mungkin ada sedikit penyesalan dalam hati anda. Kenapa kita bisa begitu tega, ketika penderitaan yang kita alami terasa begitu kecil dibanding “jutaan …. yang akan mati“(sepertinya untuk dianggap serius sekarang ini, bahkan dokter pun harus membuat prediksi dengan angka-angka yang “FANTASTIS“). Bukankah kita semua sudah mendengar cerita tentang keluarga yang tidak bisa menghadiri pemakaman sanaknya yang, jika tidak positif, dapat dikategorikan sebagai ODP? Atau tentang tenaga kesehatan yang bekerja siang malam sampai tidak sempat melihat keluarganya? Dimana kemanusiaan kita?

Mungkin pembaca percaya (apalagi yang sudah melihat tulisan sebelumnya) kalau penulis ini berhati batu. Percayalah, saya yakin setiap kematian yang dipercepat itu membawa duka yang mendalam dan patut kita hormati. Saya juga tahu betapa banyak orang yang telah memberikan waktu dan tenaganya untuk bekerja dalam garda terdepan melawan wabah. Untuk itu saya berterimakasih.

Di sisi lain, memandang fenomena ini hanya dari kacamata human interest tidak ada bedanya dengan membaca majalah. Pengambil keputusan harus lebih dari sekadar terenyuh hatinya, tapi juga berpikir apa yang terjadi minggu depan. Bulan depan. Tahun depan. Tahun depannya lagi. Jika keputusan berbasis pertimbangan medis membicarakan ongkos hidup manusia sekarang, maka keputusan untuk memulihkan kehidupan itu membawa ongkos hidup besok. Apakah, senada dengan surat penuh emosi dokter di atas, kelumpuhan kehidupan 271 juta masyarakat Indonesia juga tidak berbahaya? Apakah gagap rencana banyak orang karena momok Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) itu tidak juga pantas dipertimbangkan? Lebih dari itu, apakah PSBB yang berkepanjangan dapat dipertahankan? Karena itu saya, seperti juga teman saya, bertanya: kapan kita bisa kembali hidup normal?

Sebelum diserbu sekumpulan pencemooh perlu dicatat kalau saya tidak mencari tanggal tertentu. Toh pemerintah kita tidak mempekerjakan dukun yang bisa meramal masa depan. Yang saya inginkan adalah sebuah kondisi dimana kita bisa dengan yakin menyatakan bahwa pembatasan akan dicabut. Lebih dari itu, tidak seperti skema yang agak konyol dari ahli penerawangan di Imperial College, pencabutan ini perlu bersifat permanen*: kalau dicabut hanya untuk ditutup lagi besoknya jelas sia-sia. Siapa yang bisa bekerja dengan begitu? (Tentu saja, seperti ditandakan oleh *, semua akhirnya tergantung kebutuhan).

Cara yang paling meyakinkan, sejauh saya paham, adalah dengan melakukan tes antibodi. Apa itu? Prinsipnya adalah menguji apakah tubuh kita sudah siap melawan virus secara alami. Kok bisa? Bayangkan, setiap hari tubuh kita terpapar oleh berjenis-jenis makhluk tidak kasat mata. Dengan sebegitu banyak kontak, kita toh jarang sakit. Kenapa? Karena tubuh kita sudah membentuk pertahanannya sendiri. Ini juga proses yang ingin ditiru oleh vaksin buatan: dengan melatih melalui penyakit yang sudah dilemahkan, diharapkan tubuh kita dapat melindungi dirinya sendiri. Pada dasarnya, semua orang yang sudah memiliki antibodi pada virus praktis akan imun terhadap penyakit itu (dengan sedikit pengecualian).

Tes antibodi ini berbeda dengan tes virus Corona yang angkanya diumumkan tiap hari itu. Jika tes biasa (yang menggunakan alat bernama PCR) itu memeriksa infeksi yang terjadi di saat pengujian, tes antibodi adalah potret infeksi (baik yang menunjukkan gejala atau tidak) yang sudah lewat. Orang mendapat hasil negatif di tes biasa bisa saja terinfeksi karena ia terpapar setelah tes dilakukan. Di sisi lain, hasil positif di tes antibodi menandakan ketahanan tubuh, tapi tidak menjamin orangnya tidak membawa virus.

Apa kalau begitu manfaat tes antibodi ini? Ada dua. Pertama, orang-orang lolos dapat kembali beraktivitas normal, karena mereka praktis sudah lepas dari bahaya infeksi. Ide inilah yang ingin dicoba di Italia: semua yang dinyatakan kebal akan mendapat ‘paspor antibodi’ dan diizinkan untuk bekerja seperti biasa. Kedua, tes ini bisa menguji ketepatan model-model yang diandalkan pembuat kebijakan: kita bisa bandingkan, berapa banyak yang sudah pernah terpapar (berdasarkan tes antibodi) dan berapa banyak yang diprediksi oleh model. Mungkin ini cara yang paling langsung untuk membuktikan apakah keputusan PSBB di awal sudah bermanfaat (ada indikasi awal kalau jawabannya “tidak terlalu“)

Apakah metode ini baik diterapkan di Indonesia? Sebelumnya maaf, karena saya bingung harus tertawa atau kasihan pada yang bertanya. Kalau semua orang hatinya sebaik yang bertanya, pasti dunia ini indah. Kalau anda ingin tahu, jawabannya ya dan tidak. Jelas ya, dengan alasan di atas. Tapi jelas juga tidak, karena di negara yang organisasinya (lepas dari pemimpin, ini penyakit bawaan) berantakan, kema(mp)uan kerjasamanya rendah, dan kapasitas laboratoriumnya kecil, mencoba melakukan tes masal dengan barang yang di Jerman pun baru dicoba pada 3000 sampel minggu ini itu suatu yang mustahil, minimal untuk waktu dekat ini.

Okelah, kalau begitu kita perlu cara lain. Disini, saya harus jujur kalau saya tidak tahu. Saya bukan pakar, cuma suka komentar. Kalau boleh menebak, mungkin caranya adalah melakukan rapid test pada sampel populasi yang mewakilkan secara berkala (seperti pada survei quick count pemilu). Alasannya dua: satu, rapid test ini relatif murah dibanding dengan tes biasa (tes PCR) yang bukan cuma mahal dan alatnya sedikit, tapi juga persedian bahan penunjangnya juga sudah minim.

Kedua, kita bisa meniru keuntungan tes antibodi: dengan survei, kita bisa mendapatkan gambaran jumlah masyarakat yang sebenarnya sudah terpapar (yang jauh di atas angka tes) dan reaksi tubuh mereka. Dengan kata lain, berapa banyak dari yang sudah terpapar ini ternyata hanya menunjukkan gejala ringan atau bahkan tidak menunjukkan sama sekali. Dari situ kita bisa memutuskan: jika besaran yang terpapar sudah signifikan (katakan 25-30%), maka PSBB sudah tidak efektif lagi, karena sudah terlalu banyak yang terkena. Disamping itu, jika hampir semua (katakan 90%) infeksi itu berakhir dengan relatif sehat, maka risiko kepada khalayak umum dapat dinilai rendah sehingga pelepasan pembatasan pada golongan ini dapat dikatakan aman.

Semua cerita ada akhirnya, termasuk cerita virus Corona. Penulis naskah yang baik selalu bisa membayangkan bagaimana ia akan mengakhiri kisahnya. Kini pena itu ada di tangan pemerintah: apakah kita akan membal dari tekanan virus atau kita akan gepeng dilindas kegagapan kita? Seperti pernah saya bilang, jika membicarakan ini terasa kejam, menghindarinya itu kekanak-kanakan. Bahkan tahanan pun tahu kapan dia akan bebas. PSBB adalah kebijakan yang baik, tapi ia hanya untuk sementara. Karena itu saya bertanya sekali lagi: kapan kita bisa kembali hidup normal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *