Kasih, Bukan Katarsis

Ada yang percaya kalau hidup ini adalah drama dengan kita sebagai tokohnya. Perbandingan ini tidak jauh: dalam ilmu dramaturgi, sebuah kisah itu diawali dari sebuah konflik yang tidak selesai. Dari tegangan yang tidak tersalurkan, sehingga menimbulkan kericuhan di antara tokoh-tokoh drama. Ketegangan inilah yang membawa drama itu dalam sebuah krisis.

Pada masa krisis semua tokoh akan mencari jalan keluar. Ada yang mengabaikan krisis, tapi hanya akan meninggalkan sisa tegangan yang tidak terselesaikan. Ada juga yang berdamai sehingga, seperti balon yang kempes, krisis itu akan berlalu dengan sendirinya. Tapi cara yang paling memuaskan dalam mencapai klimaks mungkin adalah melalui katarsis: alih-alih kempes, balon penuh tekanan itu akan meledak. Setelahnya yang tersisa hanya kekosongan yang sekarang bisa diisi oleh penyelesaian dari cerita tersebut. Penjelmaan paling gamblang dalam drama terjadi pada Om Vanya oleh Chekhov, karena krisisnya usai ketika Vanya sendiri menembakkan pistol ke udara. Tembakan ini yang akhirnya mampu memecahkan kebuntuan dengan meruntuhkan semua pembelaan diri yang telah dibangun begitu lama oleh para tokoh cerita.

Saya yakin kita semua sadar kalau kita semua adalah tokoh dalam sebuah krisis pada drama yang mendunia. Ketika krisis ini sudah mulai memasuki bulan kedua, kita mulai bisa melihat lebih penuh apa yang kita hadapi. Mungkin ada yang putus asa melawan kuatnya makhluk kasat mata ini (walau saya berpendapat lain). Mungkin ada juga yang lemas melihat amblasnya penghidupannya, bukan hanya sekarang (dimana bantuan masih melimpah, tapi juga setelahnya. Ada juga yang hanya sudah lelah hidup di rumah dengan takut, bahkan untuk sekadar menyapa tetangga sendiri.

Di masa beginilah kita cenderung mencari katarsis. Andai mukjizat itu akan datang untuk mengangkat awan gelap ini. Setidaknya kita ingin mendengar nubuat: seperti suara nabi-nabi di masa lalu, kita ingin mendengar suara ilahi yang menjanjikan pembebasan. Seperti bangsa Israel menantikan seorang pembebas, kita juga menantikan akhir dari krisis kita ini. Dalam konteks inilah minggu lalu saya membaca nats berikut (1 Korintus 13: 8-10):

8Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. 9Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. 10Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

Kita mengingat, tepat seminggu lalu adalah paskah. Dalam kekristenan, momen paskah adalah katarsis yang hakiki, yang telah menjadi daging dalam figur Yesus itu sendiri. Sama seperti tembakan Vanya, kematian Yesus telah memecah semua kebuntuan dalam hidup manusia yang semakin terjerembab dalam dosa. Malah manusia dijamin akan bebas dari segala ketakutannya, karena Yesus sendiri sudah mengalahkan maut. Karena itu, bukankah kita sepantasnya menantikan kegerakan ilahi yang akan menawarkan jalan keluar bagi kita semua?

Tapi lihatlah ayat di atas! Yang sesungguhnya ditawarkan Yesus bukanlah mukjizat. Bukan ilmu yang akan mengalahkan virus. Bukan juga nubuat akan masa depan. Pesan yang sesungguhnya dibawa adalah kasih yang tak pernah berakhir. Alih-alih katarsis, Yesus menawarkan kasihnya buat umat manusia. Dasar kemulian-Nya bukan karena ia ajaib, tapi karena ia memberi penawar pada kejahatan dan ketakutan dunia. Karena itu, kekuatan kasih inilah, bukan hal lain, yang akan membawa manusia melewati krisisnya. Tidak luput juga krisis yang sekarang merundung kita. Sebegitu penting kasih ini sehingga pada ayat 2 di pasal yang sama, Paulus menulis “….tetapi jika aku tidak memiliki kasih, aku sama sekali tidak berguna”.

Maka itu kita dipanggil bukan untuk menunggu katarsis yang menjelang, melainkan untuk menyatakan kasih itu sendiri. Bukan menunggu nubuat yang akan menjanjikan pembebasan atau keajaiban yang akan mematahkan virus, tapi kita dituntut untuk mengalahkan takut itu sendiri, baik kepada sendiri dan pada sesama. Sebab kasih dari Allah itu tidak berkesudahan, tidak akan habis jika dibagikan kepada tiap-tiap orang. Lewat perbuatan kita yang penuh kasih, selubung gelap krisis ini, sama seperti segala hal yang “tidak sempurna”, akan lenyap. Yakinlah, pada akhirnya krisis ini akan benar berlalu, bukan hanya digantikan oleh benih krisis berikutnya, hanya ketika kita melewatinya dengan berdasarkan kasih dan bukan dengan huru-hara yang bersumber dari rasa takut kita. Inilah, saudara sekalian, yang menjadi makna paskah kali ini bagi kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *