Skip to content

Dari Mana Asalmu?

Catatan: tulisan ini adalah yang pertama  dari seri peringatan tahun ke-12 saya tinggal di Amerika. Banyak kenangan baik yang ingin direkam, lebih banyak lagi yang ingin disesali. Ujung serinya hanya bergantung pada keinginan penulis.

Minggu lalu, adalah satu pertemuan matematika di Eropa. Karena tempatnya menarik, saya rela dikurung seperti ikan sarden dalam kaleng terbang yang disebut pesawat. Toh sudah dua tahun tidak ada kesempatan begini, apalah artinya perjalanan yang tidak menyenangkan itu.

Seperti layaknya dalam pesta, banyak hadirin yang adalah kawan lama, diselingi beberapa anggota baru di komunitas itu. Karena saya baru dan datang sendiri, saya mendapat kehormatan untuk selalu mengenalkan diri ke semua orang. Setelah nama, pertanyaan yang selalu muncul adalah ”kamu dari mana?”.

Ternyata tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Normalnya saya akan menjawab dengan mantap, ”saya dari Indonesia”. Di lingkungan kerja saya, ternyata ini bukan jawaban yang tepat. Kok bisa, dari negara yang hanya punya lima matematikawan bisa datang ke acara ini? Pun jawaban ini tidak akurat. Saya bekerja di Missouri dan saya mewakili kampus saya di Amerika. Karena itu saya buru-buru merevisi jawaban saya. ”Tapi saya tinggal di Missouri”. Setelah mendengar nama yang mereka kenal, barulah percakapan bisa berjalan lancar.

Sejujurnya ada yang sedikit menusuk dari pertanyaan itu. Dari mana saya datang? Fakta sejarah berkata saya lahir dan besar di Indonesia. Tapi dari mana di Indonesia? Saya sekolah di ibu kota, tapi orang tua saya adalah pendatang. Empat puluh tahun di kota tidak mengubah mereka menjadi orang Jakarta. Teman-teman mereka (jadi teman keluarga kami) juga orang yang senasib. Mereka datang dan menetap, tapi buat mereka kampung halaman adalah tempat “yang lain”. Kota ini, katanya, hanyalah tempat berdiam sementara.

Ah, kampung halaman. Bona pasogit, kata orangtuaku. Jauh dibanding dengan orang lain, orang Batak selalu membanggakan kampung halamannya. Entah di mana di Tapanuli, tiap orang akan dikenal dari di mana keluarganya berakar. Tapi benarkah itu? Biarpun selalu diingatkan di tiap tahun baru, berapa kalikah saya pernah ke sana? Siapa yang saya kenal? Seperti naik kereta yang menjauh, yang ada hanyalah memori yang makin samar akan lambaian tangan pada yang konon katanya adalah kerabatku.

Nyatanya semua itu cuma cerita masa lalu. Lihatlah ke hari ini. Tidak terasa sudah sebelas tahun saya tinggal di negara yang jauh. Biarpun masa kecil dihabiskan di ”kampung halaman”, saya hanya mengenal hidup dewasa di negara ini. Kembali ke rumah orangtua hanyalah untuk melestarikan tradisi nasional: mudik. Dan juga mengikuti pemudik ”sukses” yang mendahului saya, saya datang dengan gaya tanah rantau: celana pendek, kartu kredit luar negeri, menyetir dengan sopan, datang tepat waktu, dan lain sebagainya. Setiap perjumpaan (dimana saya datang sedikitnya 15 menit sebelum kawan yang ditemui) mengingatkan kalau kami sudah berubah. Mengesampingkan niat saya untuk (tetap/lagi) menjadi orang Indonesia, terbit pertanyaan, ”apa saya bisa hidup di sini?”.

Eh, siapa yang tahu. Saya sudah tidak terpukau dengan hidup di luar negeri. Tapi itu urusan buat lain waktu. Kalo dipikir lagi, apa bedanya saya hari ini dengan bapak saya di 1985? Kembali ke pertanyaan awal, ”dari mana asalKU?”. Jawabannya mudah bagi yang mengenal dirinya, tapi sulit bagi saya. Di mana saya tidak merasa terasing? Di mana saya tidak dikelilingi orang yang tinggal ”hanya untuk sekarang saja”? Saya tidak optimis saya bisa dapat jawabannya. Mungkin anak saya akan lebih beruntung.

Ngomong-ngomong, akhir cerita minggu lalu, akhirnya saya menyerah. Setelah tiga kali menjelaskan panjang dan lebar, begitu ditanya lagi saya cuma menjawab, ”sekarang di Amerika, besok belum tahu di mana.”.

Leave a Reply

Your email address will not be published.