Berapa Banyak Korban Virus Corona? (Bag. 2)

Link ke bagian 1.

Berapa banyak yang sebenarnya terjangkit virus ini?

Lepas dari persoalan di atas, angka kematian itu relatif mudah untuk dihitung. Seseorang antara hidup dan mati, dan kecuali anda itu Yesus, yang sudah mati akan tetap mati. Pertanyaan kedua ini lebih sulit. Siapa saja yang sebenarnya sudah kena virus?

Ini pertanyaan yang berbeda dari sebelumnya. Kalau di awal kita bicara tentang klasifikasi, di sini kita harus melakukan penaksiran dengan data yang terbatas. Kenapa? Karena cara tahu yang pasti hanya satu: melakukan tes untuk virus (dan itu pun tidak seragam hasilnya). Masalahnya kemapuan tes kita terbatas. Bahkan jika kita bisa melakukan 100.000 tes per hari (5 kali juara dunia Korea Selatan), akan dibutuhkan 7 tahun untuk melakukan tes pada setiap orang di Indonesia. Belum lagi, seseorang yang sudah pernah tes masih mungkin tertular di kemudian hari.

Jadi bagaimana kita bisa tahu angka ini? Sudah banyak alat statistik untuk menjawab pertanyaan ini (ini dan ini). Perlu dicatat namun kalau prediksi yang selama ini kemungkinan besar akan meleset, karena data awalnya juga sangat terbatas. Tetap saja, angka ini akan berhubungan dengan angka kematian.

Selama ini kita ditakut-takuti oleh tingkat kematian virus Corona. Belum lama ini kita diperingatkan oleh wartawan detik.com, yang saya yakin sangat peduli dengan kesehatan bangsa dan negara, kalau tingkat kematian di Indonesia sudah mencapai 8,3%. Apa maksudnya? Angka yang dikutip “detik” ini disebut Case Fatality Rate (CFR). Angka ini didapat dengan membagi jumlah pasien yang meninggal dengan jumlah pasien yang diketahui positif.

\(\text{CFR} = \frac{\text{Jumlah yang terkena virus dan meninggal}}{\text{Jumlah yang terkena virus}}\)

Persoalannya adalah kita tidak tahu angka pembaginya dan mencari angka ini secara akurat itu sangat sulit. Secara umum, ahli epidemi yakin kalau angka yang diumumkan sekarang itu jauh terlalu rendah, karena kemampuan kita melakukan tes juga terbatas. Seberapa jauh itu masih diperdebatkan: bahkan ada yang meyakini kalau angka sebenarnya 10 kali dari angka saat ini. Jadi jangan heran kalau angka tes positif akan naik terus dalam beberapa minggu kedepan. Ini normal.

Tapi apa artinya ini untuk tingkat kematian? Saat saya menulis ini, diketahui kalau 58 dari 790 orang terjangkit virus Corona di Indonesia telah meninggal, menghasilkan 7,3% CFR. Kalau kita berasumsi kalau ada 7900 orang yang terjangkit (10 kali dari angka positif terbaru), maka CFR akan turun menjadi 0,73%, sejalan dengan negara-negara lain.

Pembaca mungkin ragu dengan argumen ini. Toh sudah saya bilang semua prediksi itu bisa meleset, jadi bisa saja memang benar ada 790 kasus di Indonesia. Tapi ada masalah lain dengan jumlah kasus resmi sekarang ini: datanya dikumpulkan melalui apa yang disebut sebagai selection bias. Hal ini umum terjadi di sebuah studi ilmiah, yaitu ketika kita hanya melihat sebagian kecil dari kasus yang ada. Bias ini semakin parah kalau kita hanya melihat di daerah yang terkena masalah. Seperti memakai kacamuta kuda, kita hanya bisa melihat ke depan, tapi tidak ke sekeliling.

Apakah data kita mengalami selection bias? Tentu saja! Kebijakan untuk membatasi tes hanya kepada pasien yang menunjukkan gejala parah virus Corona itu baik, karena kemampuan tes kita terbatas. Tapi ini juga menimbulkan kekosongan data, karena kita sama sekali tidak tahu persebaran virus pada populasi yang sama sekali tidak menunjukkan gejala. Sejauh ini data yang paling mendekati kenyataan mungkin adalah data dari Korea Selatan, karena mereka telah melakukan tes kepada ratusan ribu orang, jauh di atas negara lainnya. Lihat saja, CFR mereka jauh di bawah angka fantastis 8,3% di Indonesia.

Bijaklah melihat data

Setelah kita melihat begini, virus ini menjadi jauh lebih jinak dari yang kita kira. Bahkan pengumpul statistik kesehatan di Italia pun mengakui kalau angka yang mereka keluarkan itu mungkin terlalu tinggi. Alih-alih menjual angka-angka dan prediksi yang mengeirkan(ketakutan murahan yang dicoba dijual olah koran kuning dan orang-orang yang mau jadi pahlawan kesiangan), kita akan melihat virus ini dalam proporsi yang pantas: sebagai bagian hidup yang bisa, dan akan, kita kendalikan. Jadi bijaklah melihat data dan jangan panik melihat angka-angka yang luar biasa. Tanyakan dari mana angka itu datang dan yakinlah semuanya akan berubah sampai revisi data yang berikutnya.

2 thoughts on “Berapa Banyak Korban Virus Corona? (Bag. 2)”

  1. Pingback: Sudahkah Anda Bertanya Tentang Data Virus Corona? (Bag. 1) - Coretan Bang Paul

  2. Pingback: Berapa Banyak Korban Virus Corona? (Bag. 1) - Coretan Bang Paul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *