Berapa Banyak Korban Virus Corona? (Bag. 1)

Dari semua pelajaran masa SD, hal yang mungkin paling pertama dipahami itu adalah berhitung. Kalau kita perlu menghubungkan huruf dan bunyi untuk bisa membaca, berhitung itu mudah. Pakai jari juga bisa. Tapi apa anda tahu kalau menghitung itu sebenarnya hal yang sulit? Kalau tidak percaya, coba lihat gambar di bawah ini dan jawab berapa banyaknya bintang yang terlihat kasat mata. Tidak perlu yang sulit dilihat, tapi cukup yang terang saja. Ternyata ini juga mudah salah. Kenapa? Karena banyak yang terlihat terang itu ternyata bukan bintang, tapi ternyata planet.

 
 
 
 
 
Sieh dir diesen Beitrag auf Instagram an
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Ein Beitrag geteilt von NASA (@nasa) am

Contoh ini mudah dan kemungkinan besar tidak ada efeknya pada hidup anda (kecuali yang berprofesi astronom). Sayang tidak semua salah hitung bisa dilupakan seenteng menghitung bintang. Jika kita tidak berani untuk bertanya dengan hati-hati, saat ini saya khawatir telah terjadi salah hitung dalam skala besar yang efeknya akan dirasakan oleh kita semua tahun ini. Apa ini maksudnya? Apa lagi yang saya bicarakan kalau bukan tentang statistik virus Corona (COVID-19).

Berapa banyak sebenarnya yang meninggal?

Pertama mari kita bicara tentang angka yang paling mudah dihitung: angka kematian. Sekilas ini mudah: cari semua yang sakit terkena virus. Kalau pasien ini meninggal dengan penyakit (bukan, contohnya, karena kecelakaan), maka dia akan dihitung sebagai korban virus Corona. Mudah kan?

Ternyata tidak segampang itu. Ada dua pertanyaan. Pertama, apakah penyebab pasien itu meninggal? Kedua, bila tidak ada virus, seberapa mungkin pasien itu akan terus hidup? Kita ambil contoh kasus pasien yang sempat masuk berita dua minggu lalu di kota Padang. Wanita berumur 56 tahun ini dicuragai terjangkit virus Corona saat kembali dari umrah karena ia mengalami sesak nafas dan demam. Setelah diselidiki, pasien ini memiliki riwayat diabetes dan jantung. Sekitar seminggu setelah dirawat dalam isolasi, pasien meninggal pada tanggal 13 Maret. Tapi apakah benar virus ini yang telah membunuh si pasien? Jika pasien kemudian diketahui meninggal oleh serangan jantung, haruskah kejadian ini dicatat sebagai kasus Corona atau kasus penyakit jantung?

Seorang dokter disini dapat berargumen kalau virus ini secara tidak langsung menyerang ketahanan tubuh si pasien, sehingga penyakit degeneratif yang sudah lama dibawa dapat kesempatan untuk kembali muncul. Hal ini sudah lama diketahui dan tidak spesifik kepada virus Corona. Flu biasa juga memiliki efek yang sama, makanya 200-an ribu orang meninggal setiap tahun karenanya.

Tapi kasus yang dikutip di atas ini berbeda, karena pasien sudah memiliki kondisi bawaan. Lebih dari itu, terlepas dari virus atau tidak, peluang pasien untuk hidup dengan kondisi ini juga tidak besar. Menurut sebuah studi penyakit jantung yang sering dikutip, peluang seorang wanita untuk hidup setahun setelah terkena serangan jantung itu sekitar 64%. Untuk 2 tahun lebih buruk lagi: hanya 56%. Dengan kata lain, jika kita berasumsi pasien ini terkena serangan jantung pada saat yang sama dengan terjangkit virus, peluang dia untuk hidup lebih lama memang sudah tidak besar. Kalau dilihat begini, mungkin kita akan merasa kalau virus ini hanyalah sebuah kebetulan untuk mengakhiri hidup yang sudah tidak panjang lagi.

Inilah pertanyaan utama yang membedakan Italia dengan negara lainnya. Ketika di negara lain memiliki sistem klasifikasi yang lebih selektif, di Italia semua pasien meninggal yang positif virus (lepas dari penyebab kematiannya) dicatat sebagai korban Corona. (Lihat juga laporan ini)

Lanjut ke bagian 2.

4 thoughts on “Berapa Banyak Korban Virus Corona? (Bag. 1)”

  1. Pingback: Sudahkah Anda Bertanya Tentang Data Virus Corona? (Bag. 2) - Coretan Bang Paul

  2. Pingback: Berapa Banyak Korban Virus Corona? (Bag. 2) - Coretan Bang Paul

  3. Pingback: Model Bukan Ramalan Dukun - Coretan Bang Paul

  4. Pingback: Stop Sandiwara PSBB (Bag. 1) - Coretan Bang Paul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *