Berapa Yang Mau Anda Bayar Untuk Menyelamatkan Nenek Anda?

Siapa sangka, ternyata mengobrak-abrik dunia itu mudah. Menumpang beken penyakit pendatang baru, sambil didukung media yang perlu berita selingan untuk rehat dari pertarungan politik sehari-hari, sebagian besar masyarakat dunia dengan sukarela, bahkan memohon untuk, menyerahkan penghidupan dan kebebasannya ke tangan pihak yang berkuasa. Andai saja manusia modern selalu seantusias ini untuk mengikat dirinya, tentu Uni Soviet (atau diktator favorit anda) masih berkuasa sekarang ini. Sayangnya ada dua pertanyaan yang tidak pernah diangkat: seekstrem apa pembatasan yang mau kita terima, dan apakah kebijakan itu benar-benar bermanfaat?

Mari kita mulai dengan mencermati musuh tak terlihat ini. Tentu pembaca sudah kenyang dengan cerita tentang jejak virus ini. Dimulai Tiongkok, kini COVID-19 sudah menyebar praktis ke seluruh penjuru dunia. Perjalanannya dibayangi dengan ancaman yang mengerikan: menurut laporan terkini (yang sering dikutip) dari Imperial College di Inggris, 80 persen dari penduduk AS dan Inggris akan terkena COVID-19 dalam 18 bulan ke depan. Yang lebih mengerikan lagi, diperkirakan 2,2 juta dari 300 juta penduduk AS akan meninggal akibat virus ini. Perkiraan ini ditambah lagi dengan angka kematian yang diumumkan setiap hari di negara seperti Italia, yang baru-baru ini melaporkan lebih 800 kasus kematian dalam satu hari. Tidak heran kalau masyarakat menjadi panik.

Disinilah seharusnya terletak sebuah pelajaran penting: pentingnya perbedaan risiko secara umum dan risiko secara pribadi. Disini saya akan mengangkat kasus dari dua negara, Italia dan Korea Selatan (Korsel). Kenapa dua ini? Italia sekarang mengalami dampak paling hebat dan menghasilkan data dari pasien. Di sisi lain, Korsel adalah negara yang sudah melakukan tes terbanyak sehingga bisa memberi gambaran tentang persebaran virus ini. Yang paling penting, angka dari dua negara ini bisa dipercaya dan dibaharui berkala.

Mari kita mulai dari hal yang paling ditakuti: tingkat kematian. Sering dikutip bahwa tingkat kematian virus Corona itu sekitar 2-4%: dengan kata lain untuk setiap 100 orang yang terkena virus, antara 2 sampai 4 orang akan meninggal. Namun disini kita perlu berhati-hati: kalaupun angka ini benar (dan ini masih bisa banyak diperdebatkan), risikonya tidak merata ke semua orang. Menurut kasus di Italia, lebih dari 80% yang meninggal berusia di atas 70 tahun (lihat tabel di bawah). Di lain sisi, hampir tidak ada pasien di bawah 60 yang meninggal. Ditambah lagi praktis semua pasien yang meninggal memiliki riwayat penyakit degeneratif seperti penyakit jantung atau tekanan darah tinggi. Dengan kata lain, jika anda sekarang membaca ini, berumur di bawah 50, dan cukup sehat, kemungkinan anda meninggal karena COVID-19 lebih kecil dari kemungkinan anda celaka di jalan.

Gambar 2: tingkat kematian di Italia berdasarkan umur (Sumber)
Gambar 2: tingkat kematian di Korsel berdasarkan umur, per 21 Maret (Sumber)

Bagaimana dengan yang tidak meninggal? Disini gambarannya agak lebih buram. Datanya belum seragam, jadi sulit untuk mengenali gambar keseluruhan. Sifat virus Corona yang seperti flu juga meningkatkan angka yang terjangkit dari yang muda dan aktif. Kalau yang di rumah sakit? Angka dari Italia menunjukkan kalau setidaknya setengah dari kasus yang perlu dirawat di rumah sakit adalah pasien berumur sedikitnya 63. Berapa yang masuk perlu perawatan intensif di ICU? Data sementara dari AS (yang masih di tahap awal) memberikan gambar yang sama: kemungkinan untuk dirawat dan masuk ICU meningkat 5-10 kali lipat untuk pasien beru++mur di atas 65. Jadi bisa kita simpulkan, bagi kebanyakan orang, terutama yang ada di usia kerja, virus Corona kemungkinan kecil dampaknya bagi kesehatan (selain dari gejala flu biasa).

Gambar 3: jumlah yang dirawat di RS di AS (Sumber)

Jika memang virus ini sendiri bukan penjelmaan dari wabah di masa lampau, kenapa kita mau harus mengorbankan begitu ekonomi kita atas nama penganggulangan bencana? Sudah seminggu kita mendengar Presiden dirongrong oleh gugatan untuk mengumumkan lockdown nasional. Indonesia, seperti dituntut oleh sebagian orang, harus menerapkan karantina massal seperti sudah dilakukan di negara-negara lainnya. Kalau memang pemimpin negara ini mampu belajar, ia akan menolak tindakan pahlawan kesiangan ini karena akibatnya hanyalah kesengsaraan. Bukan hanya sengsara karena tidak bisa keluar rumah, namun perintah menghentikan roda ekonomi akan menghancurkan dunia usaha, terutama usaha kecil. Jejaknya sudah terlihat: angka pengangguran di AS melonjak sejak banyak sekolah dan usaha dipaksa tutup dua minggu lalu. Ekonomi dunia diramalkan akan memasuki resesi sebelum tengah tahun ini. Apakah Indonesia mampu mengalami ini? Sejujurnya saya ragu.

Sebelum saya dituduh sebagai provokator yang egois, telah tercemar oleh budaya individualistis kebarat-baratan, perlulah ditekankan kalau saya percaya kalau setiap nyawa itu berharga. Setiap yang meninggal, korban virus atau bukan, adalah alasan untuk berkabung. Untuk menghindari itu, kita harus menerima beberapa batasan pada kehidupan umum seperti membatalkan pertemuan massal. Tapi tidak kalah penting juga untuk memikirkan yang masih hidup. Di saat milyaran orang di dunia diteror oleh kabar tentang virus, di saat narasi suasana perang diangkat untuk mencabut kebebasan begitu banyak orang, di waktu penghidupan jutaan orang terancam hilang permanen lewat kebangkrutan, begitu kekuatan negara diarahkan untuk memecah ikatan sosial rakyatnya sendiri, perlu selalu kita tanyakan: kenapa?

Sudah saatnya kita pembuat kebijakan di negara ini mendengar semua pihak. Sejauh ini kita hanya mendengar dari ahli epidemi. Saya tidak meragukan mereka berniat baik, tapi mereka juga manusia. Pandemi virus ini memberi kesempatan buat mereka menjadi penting, sesuatu yang jarang ditemui kalau hidup anda dihabiskan di lab. Di sisi lain, bayang-bayang kondisi darurat memberi panggung bagi politisi yang ingin jadi pahlawan. Mengambil tindakan yang terlihat tegas seperti menutup sekolah dan tempat wisata dan membatasi kendaraan umum akan terlihat lebih baik dari tidak berbuat apa-apa, walaupun efektifnya keputusan itu masih tanda tanya besar. Pada saat yang sama, kita juga harus bertanya pada diri kita sebagai warga negara: apa ongkos yang mau kita terima untuk menyelamatkan yang tua dan sakit di antara kita? Untuk bilang berapapun itu kekanakan. Menghindarinya juga bukan jawaban. Apapun jawabannnya, akan lebih sehat untuk menemukannya sekarang dibanding nanti ketika korban virus dan ekonomi sudah menumpuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *